Dari masa perkenalan sampai masa pendekatan.
Dari yang ga peduli sampai saling mempedulikan.
Dari yang membisu sampai mengalun senyuman.
Ya, itu AKU dan KAMU.
Tanpa kepastian dan tanpa kejelasan.
Banyak kisah dan pelajaran yang kita dapatkan setelah perkenalan kita.
Banyak canda dan tawa disela-sela air mata yang jatuh tak teratur.
Kita saling suka.
Kita saling nyaman.
Kita saling tertarik.
Saat disatu titik, dimana aku mengetahui sebuah kebenaran tentangmu.
Aku diam dan tak menuntut satu permintaan apapun darimu.
Lantas, hingga akhirnya kamu memintaku untuk menarikmu dari masa lalumu. Aku tak yakin, bahwa aku bisa. Namun, aku mulai belajar untuk mempercayaimu supaya kepercayaan yang aku berikan dapat kamu gunakan untuk keluar dari zona masa lalumu yang sangat menyiksamu.
Tapi, aku salah. Setiap tutur kata yang membuat aku yakin kepadamu, kamu rusak gitu aja tanpa kamu sadari.
Aku sangat sadar bahwa aku ini bukan siapa-siapa kamu.
Aku juga sadar bahwa aku tak punya hak untuk melarangmu.
Dan aku lebih sadar diri kalau aku tak bisa seperti masa lalumu. Aku BUKAN DIA. AKU BERBEDA DARINYA.
Setiap kepercayaan yang kadang kamu rusak tak memutuskan perjuanganku untuk menarikmu dan membawamu ke hal yang baru serta jauh lebih indah.
Namun, semakin aku menarikmu, semakin kamu masih mempedulikan masa lalumu dan tetap berdiri disana menunggu dia kembali.
Bukankah sia-sia aku ini?
Seandainya kamu membaca dan kamu ketahui, semakin kamu mempedulikannya, semakin jauh aku terluka.
Bagaimanakah usahaku selama ini jika itu semua hanya angin lalu bagimu?
Aku wanita dan aku berperasaan.
Boleh kamu anggap aku ini egois karena bukan siapa-siapa kamu lalu tidak menyukai sikapmu mempedulikan masa lalumu. Tapi coba kamu tanyakan saja pada setiap wanita bahkan ibumu. Apa yang akan mereka katakan jika mereka merasakan diposisi aku tetap mengalah dalam diam?
Sempat terlintas dalam benakku untuk menyerah pada keadaan dan menyerahkanmu pada sebuah waktu. Namun, aku tak bisa. Aku terlanjur menyukaimu, dan aku terlanjur menyayangimu.
Hanya dapat ku lemparkan senyum, menunggumu, dan berjuang dalam kebisuan.
Aku tak pernah berharap banyak, bahkan aku tak ingin kamu tahu bahwa aku selalu berjuang disetiap langkahmu tanpa kamu sadari.
-14-