Selasa, 17 Juni 2014

kau kembali:)

Tak bisa ku pungkiri, tak bisa ku hindari...
Semakin ku coba pergi dan menghapus semua tentangmu, semakin berat meninggalkan segalanya...
Aku tau, aku bersandiwara di depanmu terlihat kuat.
Aku tau, aku terlalu munafik untuk mengungkapkan.
Terlihat tegar di depanmu, padahal aku terlalu rapuh untuk menatapmu lagi...
Sampai waktu menyadarkanmu, seakan semangat itu muncul kembali, namun kecemasan mencoba merenggut semangat yang muncul.
Ya semangat mempertahankanmu.
Ada rasa bahagia terselip rasa khawatir...
Akankah aku mempertahankanmu? Jika aku pernah mempertahankanmu namun kamu mempertahankannya.
Akankah aku berjuang untukmu lagi?
Jika aku pernah berjuang namun kamu memperjuangkan orang lain.
Seandainya kamu tau dengan kesadaran yang kamu rasakan sekarang bisa membuatku tenang walau terlambat.
Saat aku mulai berjalan sendiri, kamu berlari kembali.
Ini membuatku untuk kembali di jalan itu dan berdiri diam disana dengan kenangan yang tak pernah ku lupakan.
Bahagia yang ku rasakan kini walau sangat sederhana dengan terlambatnya kesadaranmu...

-14-


Sabtu, 10 Mei 2014

hei 10

Hei kamu yang jadi tanggal 10.
Seharusnya tepat hari ini kita menjalin 3 bulan.
Banyak suka duka yang kita rasaiin.
Banyak tawa yang tercipta.
Banyak perjuangan diantara kita.
Banyak kisah yang terekam.
Namun sirna termakan waktu.
Hari ini penuh kejutan dan kenyataan yang sulit ku terima.
Kamu melepasku, kamu tetap memilihnya.
Lalu, apa arti 2 bulan yang telah terlalui ini?
Apa aku masih tetap saja menjadi pelampiasanmu?
Nyatanya aku melihatmu masih berdiri disana, bercanda dengan dia.
Caramu memperlakukannya sangatlah istimewa, itu terekam jelas dalam otakku.
Kamu memanjakannya seakan dia sangatlah berarti bagimu.
Lantas, apa yang kau lakukan untukku?
Kamu memegangku seakan matamu mengasihaniku.
Kamu mengatakan sayang padaku, namun hatimu menjerit tidak!
Kamu membahagiakanku namun bahagiamu hanya bersamanya.
Iya, kamu hanya kasihan kepadaku!
Kasihan dengan kondisiku.
Aku tak perlu itu darimu.
Aku hanya perlu ketulusan dan sayang dengan kondisi yang kumiliki.
Apa aku minta kepada Tuhanku untuk menerima rasa sakit ini? sama sekali TIDAK.
Aku ingin menjadi wanita yang sehat dan bahagia seperti masalalumu.
Namun kenyataan bertolak belakang dengan anganku.
Sekarang, aku hanya terpaku dengan kenyataan yang ku genggam.
Aku berfikir bahwa aku hanya manusia yang merepotkan bagimu.
Maafkan aku, waktumu untuk bersamanya terbuang sia-sa hanya dengan mengasihaniku.
Aku sadar diri dengan semua ini.
Aku berterimakasih dengan kesabaran dan ketabahan hatimu untuk mengalah padaku.
Kenyataan memang aku lah egois, egoisku menarikmu dari masa lalumu.
Alasanku kuat menarikmu dari masa lalumu supaya kamu tak terus tersakiti karenanya. Namun, kini akulah yang terkena dampak semua itu. Aku pasrah. Aku ikhlas.
Aku bahagia apabila kamu lebih memilihnya,walaupun ku tahu, kalian berbeda.
Tapi, aku mengalah dan menyerahkanmu pada sang waktu.
Terimakasih. Terimakasih 10 Februari.
Berlarilah bersamanya dan biarkan aku berdiri dan berjuang sendiri untuk hidupku.:)
-14-

Minggu, 04 Mei 2014

Kamu:D

Mengenal lalu mendekat.
Hanya dari sebuah dunia maya seakan terlibat dalam dunia nyata.
Aku sempat melihatmu sekilas dalam via twitterku.
Tak ada pikiran untuk mendekat padamu.
Namun, waktu yang mendekatkan.
Keberanian yang tampak untuk mengenal.
Aku memang berpura-pura cuek, seakan-akan aku tak ingin mengenalmu.
YA! aku munafik.
Aku takut kalau kamu menyakitiku seperti yang sudah-sudah.
Hingga akhirnya aku menjadi tempatmu bercerita.
Aku nyaman dibuatmu,
Aku bahagia dibuatmu,
Tak habis tawaku untuk berbicara padamu.
Hingga aku berniat menarikmu dari zona perihmu.
Aku tau kamu sempat tak bisa berpaling darinya.
Segala caraku ku usahakan buatmu.
Ntah apa yang ada dipikiranku, bertemu saja tidak, namun semangat sekali membuatmu moveon darinya.
Terkadang ada rasa kesal saat kamu tak memberi kabar.
Ada rasa sebel saat kamu tak jujur padaku
Apa ini awal aku tertarik padamu?
Aku terbangun dalam dunia nyata.
Aku sadar, aku bukan siapa-siapa.
Aku takut seandainya kita bertemu, aku mengecewakanmu.
Aku selalu coba yakinkan diriku untuk tidak menyukaimu.
Karena jarak ini, aku takut jarak ini menyudutkan kita.
Kamu pernah berkata bahwa jarak sangat menyulitkan sebuah hubungan, itulah alasannya aku selalu menyangkal bahwa aku tak akan tertarik padamu, dan menganggapmu seorang saudara.
Aku tak mau kamu tau apa yang aku rasakan.
Aku tak mau kamu menghindar dariku.
Kita memang jauh dan tak pernah bertatap muka. Namun, kamu berhasil membuatku semangat lagi.
Karena kamu, membawa senyumku kembali;')

-14-

Minggu, 09 Maret 2014

Salah

Aku yang salah, atau keadaan lah yang membuatku begini?
Setiap perlakuanku selalu menjadi salah, tak pernah benar!
Pikiranku, perlakuanku, pengertianku selalu saja salah dimata kamu.
Salah, salah, dan selalu salah itu yang terjadi.
Kekanak-kanakanku, ke-egoisanku, selalu menjadi masalah buatmu.
Sebenarnya, tak begitu mauku. Aku sadar, aku salah menyikapimu. Salahku memperlakukanmu seperti itu.
Selalu ku coba untuk menjadi masa lalumu. Tapi aku selalu gagal.
Gayaku, tawaku, tatapanku tak akan pernah sama dengannya.
Aku ya AKU!
Dengan ketololan, kebodohan, kekanak-kanakan yang ku miliki dan dengan segala yang aku punya, itulah usahaku dan caraku menarikmu dari masa lalumu.
Berusaha berusah dan berusaha...
Tak pernah kamu anggap semua usahaku ini.
Kamu selalu melihatku dengan fikiran negatifmu.
Jujur, aku lelah tak dianggap.
Logika menyuruhku menyerahkan semuanya pada waktu. Namun hati, menyuruhku untuk mempertahankan semuanya.
Aku mengalah pada egoku.
Aku menjalankan kenyataanku. Ingin ku berlari dan tak ingin melihat semuanya.
Namun terlambat.
Dengan semua kepekaanku, aku menyadari bahwa kamu masih mempedulikannya.
Sakit, sakit dan sakit yang selalu aku dapat.
Adakah sebuah obat yang bisa menutup semua luka ini yang selalu saja tak pernah sembuh?
Adakah mentari terbit dengan kisah baru tanpa membawa kisah lama?

-14-

Masihkah?

Masihkah dia sebegitu pentingnya di hidupmu?
Masihkah dia sebegitu indahnya di pandanganmu?
Masihkah dia sebegitu menyenangkannya di fikiranmu?
Jika memang tidak, lantas mengapa kamu selalu tersenyum akan hadirnya dia?
Namun jika memang iya, lantas apa dan siapa aku selama ini di kehidupanmu?
Selalu gagal aku dalam setiap membaca tingkah dan fikirmu.
Tak habis fikir aku dibuatmu, kamu selalu meyakinkanku seakaan perasaanmu padanya telah sirna.
Namun, aku wanita. Perasaanku lebih peka.
Aku menyadari kamu masih menyayanginya, bahkan susah untuk melepasnya hanya karena suatu kondisi memaksa merelekannya.
Kemudian, datanglah aku dalam kehidupanmu, yang kamu anggap menjadi tempat baru untuk bersandar, melampiaskan, dan bersinggah tanpa ada niatan menetap.
Ya, aku sadar, kehadiranku memiliki arti untuk membantumu menghapus setiap lukamu.
Tapi sadarkah kamu apa yang selama ini aku rasa?
Egoiskah aku bila memintamu untuk menetap padaku dan melepaskannya?
Salahkah aku bila memintamu untuk merelekannya dan menerima kedatanganku?
Ya, AKU EGOIS.
Tahukah kamu bahwa aku menyadari setiap perilakumu yang menganggapku hanya sebagai tempat pelampiasanmu?
Aku tahu bahkan perpindahan dari hatinya ke hatiku tak semudah membalikkan telapak tangan.
Tak pernahkah kamu menyadari ada tempat indah disetiap perpindahan, jauh lebih indah dari tempat sebelumnya.
Yang dapat menjadikan dirimu baru dan lebih baik.
Sayang sekali, kamu tak pernah mau tahu hal itu, karena yang kamu inginkan bersama masa lalumu.
Aku pahami walau sakit yang kurasa. :)

-14-

Minggu, 09 Februari 2014

:|

Sadar diri...
Sadar akan letak posisiku.
Sadar akan siapa aku ini.
Sadar akan kehadiranku.
Sadar akan kondisiku.
Sadar bahwa ini AKU.
Ya, aku yang mencoba bertahan.
Aku yang selalu belajar untuk memahami setiap kondisi.
Aku yang selalu berjuang walau ada pengabaian.
Aku yang tidak pernah berharap untuk sebuah balasan.
Aku yang belajar untuk dewasa dalam menyikapi persoalan.
Entah takdir apa yang berpihak padaku.
Entah aku yang salah menyikapi atau aku yang terlalu tenggelam dalam peranku.
Namun, aku selalu mencoba membuka mata dan melihat realitas.
Bahwa takdir yang akan  menuntunku, sobat!

-14-

Minggu, 02 Februari 2014

Bisa dikatakan 'KITA'?

Dari masa perkenalan sampai masa pendekatan.
Dari yang ga peduli sampai saling mempedulikan.
Dari yang membisu sampai mengalun senyuman.
Ya, itu AKU dan KAMU.
Tanpa kepastian dan tanpa kejelasan.
Banyak kisah dan pelajaran yang kita dapatkan setelah perkenalan kita.
Banyak canda dan tawa disela-sela air mata yang jatuh tak teratur.
Kita saling suka.
Kita saling nyaman.
Kita saling tertarik.
Saat disatu titik, dimana aku mengetahui sebuah kebenaran tentangmu.
Aku diam dan tak menuntut satu permintaan apapun darimu.
Lantas, hingga akhirnya kamu memintaku untuk menarikmu dari masa lalumu. Aku tak yakin, bahwa aku bisa. Namun, aku mulai belajar untuk mempercayaimu supaya kepercayaan yang aku berikan dapat kamu gunakan untuk keluar dari zona masa lalumu yang sangat menyiksamu.
Tapi, aku salah. Setiap tutur kata yang membuat aku yakin kepadamu, kamu rusak gitu aja tanpa kamu sadari.
Aku sangat sadar bahwa aku ini bukan siapa-siapa kamu.
Aku juga sadar bahwa aku tak punya hak untuk melarangmu.
Dan aku lebih sadar diri kalau aku tak bisa seperti masa lalumu. Aku BUKAN DIA. AKU BERBEDA DARINYA.
Setiap kepercayaan yang kadang kamu rusak tak memutuskan perjuanganku untuk menarikmu dan membawamu ke hal yang baru serta jauh lebih indah.
Namun, semakin aku menarikmu, semakin kamu masih mempedulikan masa lalumu dan tetap berdiri disana menunggu dia kembali.
Bukankah sia-sia aku ini?
Seandainya kamu membaca dan kamu ketahui, semakin kamu mempedulikannya, semakin jauh aku terluka.
Bagaimanakah usahaku selama ini jika itu semua hanya angin lalu bagimu?
Aku wanita dan aku berperasaan.
Boleh kamu anggap aku ini egois karena bukan siapa-siapa kamu lalu tidak menyukai sikapmu mempedulikan masa lalumu. Tapi coba kamu tanyakan saja pada setiap wanita bahkan ibumu. Apa yang akan mereka katakan jika mereka merasakan diposisi aku tetap mengalah dalam diam?
Sempat terlintas dalam benakku untuk menyerah pada keadaan dan menyerahkanmu pada sebuah waktu. Namun, aku tak bisa. Aku terlanjur menyukaimu, dan aku terlanjur menyayangimu.
Hanya dapat ku lemparkan senyum, menunggumu, dan berjuang dalam kebisuan.
Aku tak pernah berharap banyak, bahkan aku tak ingin kamu tahu bahwa aku selalu berjuang disetiap langkahmu tanpa kamu sadari.

-14-

 

Nothing is Impossible Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang